Thursday, May 29, 2008

PELAJARAN JALANAN 2

Kisah Dua Manusia Super Ibukota tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk mencoba menaklukan ibukota negeri ini. Semoga kita selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita di forum orang -orang super dalam keindahan hari ini. Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk - makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberagan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira - kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar - lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Om...!" Dan saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki - laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn saya, lagi - lagi sayup - sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua
pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit Jakarta. "Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah. "Maaf, ngak ada kembaliaanya. .. ada uang pas nggak Mbak?" mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter. "Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan...? suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah. "Nggak punya, tungkas saya...!" lalu tak lama si wanita berkata "Ambil saja kembaliannya, dik...!" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur. Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya
kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget setengah berteriak ia bilang "Sudah buat kamu saja, gak apa - apa ambil saja...!" namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan.. !" Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar "Om.. tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!". "Eeeeh.. nggak usah... nggak usah... biar aja..., nih...!" saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak satunya, "Nanti dulu om, biar ditukar dulu... sebentar". "Nggak apa - apa..., itu buat kalian" lanjut saya. "Jangan... jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga" anak Itu bersikeras. "Sudah nggak apa - apa.... saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!" saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan
berlari ke arah saya. "Ini deh Om .... kalau kelamaan, maaf ya..." ia memberikan saya 8 pack tissue. "Lho buat apa...?" saya terbenggong. . "Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja dulu" Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan. "Terima kasih Om...!" mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup - sayup terdengar percakapan.. .."Duit Mbak tadi bagaimana ya..?" suara kecil yang lain menyahut "Lu hafal kan orangnya, kali aja kita ketemu lagi ntar kita berikan uangnya" Percakapan itu sayup – sayup menhilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribuperasaan. Tuhan .... hari ini saya belajar dari
dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh dan terharu, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta tap dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat belia. Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada hak atau milik orang lain.... "Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak" (Disadur dari kisah salah seorang temans di komunitas millist kami)
YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
ENGKAU HANYA SEMULIA YANG ENGKAU KERJAKAN

BALAK

Bala' atau balak atau bala apalah itu orang menyebut, yang jelas bunyinya balak. Balak yang saya tahu adalah kejadian-2 buruk dan kesialan yang akan menimpa kita. Apakah definisi ini benar belum tentu juga karena hal itu adalah persepsi saya semata. Rekans pembaca juga punya persepsi sendiri dan tentunya bisa jadi berbeda. Ok lah kita tidak mendiskusikan tentang definisi, tetapi saya akan utarakan tentang esensi dari balak tersebut dari persepsi saya. Jika rekans pernah mengalami kejadian kesialan, musibah, bencana, dan kejadian kejadian buruk lainnya tentunya rekans akan senantiasa teringat, dan rekans yang percaya kepada Tuhan, senantiasa akan mengingat dan menyebutnya. Tetapi tatkala rekans sedang dilanda kegembiraan, kesenangan, mabuk kekuasaan biasanya rekans akan lupa dengan Tuhan. Mari kita renungkan benarkah demikian ?? Rekans sendiri yang bisa menjawabnya. Kembali lagi ke Balak. Menurut hemat kami Balak dapat dengan mudah kita hindari sebelum hal itu terjadi. Dari persepsi dan keyakinan saya selama ini Balak yang dirasa akan menimpa kita bisa di hindari dengan berbagai kebaikan yang bisa kita lakukan. 1. Balak dapat kita hindari dengan berbagi kasih terhadap sesama umat manusia. Berbagi kebahagiaan melalui zakat, infaq dan sodaqoh. Logikanya begini, seandainya orang lain merasa senang dengan perbuatan kita maka ia akan berbagi kesenangan juga dengan kita (hal ini adalah kodrat manusia nurani manusia) coba rekans rasakan. Seandainya banyak orang yang merasakan kebahagiaan dari perbuatan kita maka kebahagiaan orang tersebut akan memberikan suasana nyaman dan teduh dalam relung hati dan jiwa kita, hal ini tidak bisa kita lihat tetapi bisa kita rasakan. Bila Rekans tidak percaya silakan coba dan rasakan. 2. Balak dapat kita hindari dengan memperbanyak amal jariyah. Untuk pembangunan Masjid, Mushola, Sekolah dll guna kemajuan bersama. Logikanya gimana kok bisa hayooo. Kira-kira begini dengan terbangunnya tempat-2 tersebut banyak orang yang memanfaatkan dan merasakan kebahagiaan. Banyak orang berkembang ilmunya di sana yang tentunya kedepan orang tersebut akan senantiasa memanfaatkan ilmunya dan merasa senang dapat berkembang. Orang bisa beribadah dengan baik dan nyaman, sehingga senantiasa bisa mendoakan orang lain. Hal inilah yang akan memberikan suasana positive dan menentramkan bagi kita yang senantiasa memberikan rejekinya bagi perkembangan masjid,mushola dan sekolah tsb. Sekali lagi hal ini tidak bisa dilihat tetapi hanya bisa dirasakan, .... anda penasaran ?? Bisa dicoba. 3. Menolong orang yang kesusahan dan terkena musibah. Orang-orang ini sangat membutuhkan pertolongan entah itu harta benda, uang, bantuan jasa dll. Orang yang sangat membutuhkan pertolongan jika kita menolongnya maka orang tersebut akan merasa gembira bahkan sangat gembira yang akan memberikan suasana nyaman dan teduh bagi kita yang memberikan bantuan. Hal inipun nggak akan bisa dilihat mata, tetapi bisa dirasakan dengan hati kita. Ingat rekans hanya hati kita yang bisa merasakan. Saya yakin rekan pernah mendengar petuah dan nasehat untuk hati-hati. Ya ... karena memang hati kita yang kita jaga, kita manage dan kita pelihara dari segala kotoran yang menerpanya. Saya yakin pula nggak ada manusia ini yang hatinya benar-2 bersih kecuali Hanya Nabi Muhammad SAW. namun kita juga harus yakin bahwa kita bisa menjaga kebersihan hati kita. Caranya yaitu bila merasa ada kotoran-2 sedikit cepat-cepatlah dibersihkan. Gimana sih cara membersihkan hati ??? Diantaranya dengan 3 hal tersebut diatas dan dengan banyak2 zikir mengingat Tuhan Alloh SWT. Rekans sekalian saya yakin dengan persepsi saya tersebut rekans. Gimana apakah rekans satu persepsi dengan saya ? Saya yakin bila rekans memperbanyak beberapa hal yang saya sebutkan diatas, maka Balak, kesialan, dll akan bisa dihindari sedini mungkin. Bila rekans bertanya apakah hal tersbut pasti bisa .... nah kalau kepastian saya ndak bisa memastikan, hanya Alloh SWT yang tahu. Allohlah penentu semuanya, tetapi Alloh sudah memberikan gambaran pedoman melaui Al Qur'an dan Sunnah. ................... Wallohu'alam.

PELAJARAN JALANAN

Rekans pernahkan rekans pikirkan bahwa adat sopan santun di jalan raya harus dipelihara dan diterapkan? Sering saya amati ternyata masing-masing orang punya gaya dan perilaku yang khas di jalalanan. Dahulu ... pada saat saya sering mengendarai sepeda motor saya lihat pengendara motor lain lalu lalang dengan berbagai tipe dan gaya. Ada yang tidak memakai helm, atau memakai helm seperti topi yang tidak layak, atau helm standar tetapi tidak dikuncikan padahal helm tersebut berguna untuk melindungi kepala dari benturan seandainya terjatuh atau terjadi kecelakaan. Ada yang berjalan kencang, zigzak, serasa jalan raya kepunyaan diri sendiri. Ada yang naik motor dijalanan sambil akrobat ban depannya diangkat, dan lain sebagainya. Kesemua hal tersebut menujukan jati diri siapa sebenarnya orang itu. Nah rekans terpikirkan nggak bagaimana orang lain disekitar orang itu dengan melihat dan mengamati perilakunya ? Tentunya merasa terganggu dan tidak enak dalam berkendaraan. Jelas sangat mengganggu konsentrasi dan pikiran orang lain. Padahal di jalanan pikiran, perasaan dan tindakan haruslah terjaga dengan kewaspadaan. Apabila tidak demikian maka besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan. Nah bagaimana dengan kondisi ini, ... tentunya sangat tidak diinginkan oleh semua orang. Banyaknya kecelakaan yang terjadi dijalanan menurut perkiraan saya (boleh beda kok) adalah disebabkan oleh terganggungnya konsentrasi pengendara. Entah itu karena perbuatan diri sendiri atau perbuatan pengendara lainnya yang mengganggu konsentrasi orang lain. Demikian juga rekans yang terjadi dengan pengendara mobil. Banyak sekali perilaku yang terjadi. Coba suatu saat rekans amati entah itu di perempatan lampu rambu lalulintas, palang pintu lintasan rel kereta api, jalur menyempit, tanjakan serta tikungan tajam dan lain-sebagainya. Pastilah akan rekans dapati perilaku pengemudi mobil yang bermacam-macam. Ada yang tidak sabar, dengan mencuri jalur kiri, ada yang memaksakan untuk mendahului, dan memotong jalur, ada yang membunyikan klakson dengan keras serta kasar dan lain sebagainya. Hal tersebut tentunya dilatarbelakangi oleh berbagai macam kondisi dari masing-masing pengemudi. Pemerintah dalam hal ini pihak Kepolisian dan Dinas Lalu Lintas Jalan Raya tentunya sudah mengerti betul hal itu. Oleh Karenanya dikeluarkanlah aturan dan rambu-rambu yang harus ditaati pengguna jalan raya. Tujuan dari peraturan tersebut tentunya sangat baik, mengingat untuk memberikan pedoman dan bimbingan bagi banyak orang dengan beragam dan berbagai tipe. Harapannya tentunya akan memperlancar arus lalulintas, memperkecil terjadinya kecelakaan dan memberikan ketentraman bagi pengguna jalan raya lainnya. Nah rekans semua bukannya saya sok pintar dan sok taat dalam hal ini, hanya saja terdapat suatu hal yang unik dan banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dalam mengamati perilaku pengendara kendaraan dijalanan, entah itu ujian kesabaran, kedisiplinan, ketrampilan dan sebagainya. Oleh karenanya mari kita taati aturan jalan raya demi kenyamanan dan ketentraman para pengendara kendaraan bermotor. Semoga ....

BALIKPAPAN-SAMARINDA

Empat Bulan sudah saya berada di kota Balikpapan. Setelah dalam minggu-minggu sebelumnya banyak kegiatan saya yang belum beres, maka pada minggu ini diestimasikan kegiatan saya sudah selesai. Tahukah rekans kegiatan mingguan saya dalam 1 bulan terkahir? Nggak tahukan, makanya saya akan ceritakan. Rekans dalam 1 bulan terakhir ini setiap sabtu dan minggu kegiatan rutin saya adalah membersihkan dan mengecat rumah. Maklum rumah tersebut nantinya akan ditempati oleh keluarga saya, sehingga saya harus mempersiapkannya dengan baik. Kalau menggunakan tenaga tukang, sayang eh .... di balikpapan untuk cat rumah saja ongkosnya mahal. Dari pada ngeluarin duit yang sebenarnya kita juga bisa mengerjakannya kan sayang, kenapa nggak kita kerjakan sendiri, begitu ya rekans ya...yoileh.. padahal maunya pengin ngirit he he he. Jumaat 9 mei saya bertanya sama salah seorang rekans saya, besok liburan enaknya ngapain ya. Kamu ada kegiatan tanya saya ke rekan saya tadi. Nggak katanya. Kalau begitu besok kita main Yuuuk ke Samarinda. Trus naik apa tanya teman saya. Saya bingung juga ke samarinda naik apa. Mau naik bus, takut lama. Mau pakai mobil takut macet, ... alternatifnya ya naik motor. Kebetulan temanku sepakat dan suka naik motor, biar flexible katanya. OK kita sabtu berangkat ya ....... eng ing eng........(mau ke samarinda nih). Sabtu 10 Mei 2008, tepat jam 10.30 kami berdua boncengan naik sepeda motor menuju kota samarinda. Ban sepeda motor sudah kami cek, angin sudah ditambah. Bensin sudah dipenuhin selanjutnya kami langsung tancap gas menuju ring road balikpapan ke arah kota samarinda. Jalanan Balikpapan Samarinda sudah lebar dan halus, tidak ada jalan yang berlobang seperti jalan menuju banjarmasin dan palangkaraya. Jalan Balikpapan Samarainda ini merupakan jalan utama kelas A, jalan lebar dan halus. Sepanjang perjalanan banyak kendaraan roda 4 dan roda 2 lalu lalang, sehingga menjadikan jalur ini jalur yang ramai. Sepeda Motor saya pacu dengan kecepatan standart luar kota saya (80km/jam). Rekans saya karena sudah terbiasa juga luar kota dengan sepeda motor nampak tenang dan menikmati perjalanan. 5 km, 10 km, 30 km berlalu. Pada km30 saya jumpai adanya jalur wisata agro. Sepanjang perjalanan sampai km 30, semula yang saya kira banyak hutan ternyata merupakan jalur perumahan yang cukup padat. Selanjutnya banyak pula dijumpai jalur wisata agro di jalur ini. Memasuki km 50 saya lihat terdapat 2 Rumah makan besar disamping kiri dan kanan jalan, RUMAH MAKAN TAHU SUMEDANG namanya, tepat sebelum memasuki hutan lindung Bukit Suharto. Ke dua rumah makan ini ramai dikunjungi oleh berbagai rombongan baik dari arah Balikpapan ataupun dari arah Samarinda. Saya bertanya kepada teman saya, ntra pulangnya kita mampir ke rumah makan ini ya. Ok katanya. Oh iya rekans dalam jalur ini terdapat satu daerah kawasan perbukitan yang cukup luas dan dipenuhi dengan tumbuhan hutan yang besar dan lebat. Kawasan ini merupakan Hutan lindung yang dinamakan Kawasan Bukit Suharto. Sepanjang kurang lebih 20km dengan kontur naik turun dan lebat dengan pepohonan bukit suharto ini kami lalui. Melewati bukit suharto kami memasuki perkampungan yang asri. Banyak penduduknya yang menjual bunga/tanaman hias di sepanjang jalan. Akhirnya jam 12.30 kami sampai di Samarinda Seberang. Kotanya persis di sepanjang tepian sungai mahakam. Kami susuri kota ini sambil menikmati lingkungan baru disekitar. Sesekali kami berhenti dan bertanya kepada penduduk dan pemilik warung. Akhirnya sampai juga kami ke jembatan mahakan Smarinda yang cukup terkenal. Jembatan ini membelah kota Samarinda menjadi 2. Kami masuki jembatan ini dengan hati-hati mengingat lalulintas padat dan berbarengan dengan Kampanye Pilkada Kalimantan timur. Penuh sesak jembatan ini diseberangi oleh berbagai kendaraan roda4 dan roda 2. Dari tengah jembatan panjang sungai mahakam kami melihat keindahan kota Samarinda. Tampak Masjid Besar Islamic centre tinggi menjulang di pinggir sungai. Tampak Kapal-Kapal sedang berlayar dan membongkar muatan. Tampak Kota Smarinda dari kejauhan, sampai akhirnya kami memasuki kota Samarinda melalui jalan Slamet Riyadi. Kami berhenti dulu, berfoto dan makan siang di RM Ayam Bakar Solo. Sleanjutnya kami beristirahat dan Sholat di Masjid besar Samarinda (Masjid Islamic Center) yang sangat besar, luas dan megah dengan Kubah Emasnya. Saya dan rekans saya sangat takjub dibuatnya, SUBHANALLOH dalam hati saya. Setelah Sholat selesai perjalan kami lanjutkan ke rumah kakak temans saya dari Jogja. Alamatnya ada di Jl. KH Ahmad Dahlan Samarinda. Setelah tanya sana-sini, dan dengan 2 kali tersesat akhirnya rumah tersebut kami temukan juga. Kami bicar banyak dengan kakan teman kami, bayak cerita, banyak canda dan banyak ketawa... maklum rekans kami sudah 18 tahun tidak berjumpa. Satu setengah jam kami bercanda ria, bertukar pengalaman dan perjalanan hidup hingga sama-sama terdampar di pulau Kalimantan. Kami pamit karena hari sudah sore, dan tepat jam 4 sore kami meninggalkan kota Samarinda. Perjalanan lancar hingga sampai di Km 50 kami berhenti mampir di RM Sumedang tadi. Tahuuu sumedang hangat, sambel kecap, cabe rawit dan kopi panas ..... wuiiih sunggu nikmat. Kebetulan akau masih merasa kenyang sehingga tidak pesan makan nasi. Temanku yang sudah kelaparan memesan nasi + ayam goreng tulang lunak. Wuiiih dia makan dengan lahapnya .... lapar kali ya. Sambil istirahat bentar kami habisnya makan dan minum kami, hingga terdengar azan magrib perjalanan kami lanjutkan. Baru 5 km dari Rumah Makan hujan lebat turun. Kami berhenti di sebuah rumah kosong yang sudah ada 3 motor juga berteduh. Sejenak kami mengambil mantel dan memakainya. Perjalanan kami lanjutkan dengan suasana hujan lebat dan gelap sehingga kami andalkan insting dan instuisi jalanan kami yang mengendalikan perjalanan. Tahukah rekans tanpa instuisi tersebut sangat sulit bagi saya menjalankan sepeda motor dalam suasana gelap gulita dan hujan lebat. Pelan tapi pasti sepeda motor berkecepatan 60km/jam terus melaju ke arah Balikpapan. Memasuki Kota Balikpapan, tepatnya di pertigaan arah pelabuhan penyeberangan lalu lintas macet total. kami bergerak lambat dan bertanya-tanya ada acara apa? ... Ternyata hari tersebut adalah malam minggu... jadi pantas saja macet. Memasuki jalan A. Yani dan dalam kota Balikpapan yang dipenuhi kemacatan kami lalui dengan santai. Tepat pukul 7.00 malam hari kami sampai di rumah. Saya antar teman saya ke kostnya dan saya pulang ke rumah.

Friday, April 25, 2008

Uli......Uli.....Uli...... Mak Otto

Pada hari itu minggu sekitar tahun 1980 saya masih kelas 3 SD, kira kira masih berumur 9 tahun. Pagi-pagi saya bangun untuk sholat subuh. Dari kamar tidur buka pintu rumah keluar halaman belakang trus cuci muka, maklum kamar mandi masih di luar halaman belakang rumah. Kamar mandi kami kecil mungil tidak ada jendela dan masih terbuat dari papan kayu. Walaupun demikian saya bersama adik adik selalu merawat dan mengisi air didalamnya. Diluar kamar mandi terdapat sebuah padasan (kata orang jawa), yaitu sebuah tempat air dari tembikar/tanah liat yang digunakan untuk berwudhu. Disampingnya lagi ada sebuah sumur yang pengambil airnya terbuat dari karet (orang jawa bilang dengan kerekan). Kami timba air sumur sambil bersiul siul, rasanya gembira sekali, karena akan pergi main bersama kawan karib. 30 kali timbaan air padasan dan bak mandi penuh, saya ambil air wudhu dan segera sholat subuh. Didalam rumah ibu dan bapak sudah persiapan, mereka menyiapkan memasak air dan menanak nasi. Mereka semua sudah sholat, Bapak segera membereskan halaman rumah depan dan belakang seperti biasanya.Saya bangunkan adik-adik untuk segera sholat subuh. Hari ini adalah hari minggu kataku. Mereka dengan tergesa-gesa segera bangun dan beraktifitas di hari minggu. Biasanya adikku kegiatan hari minggu pagi adalah jalan-jalan bersama teman-2nya. Selesai sholat subuh saya mandi cepet-2 dan segera sarapan pagi. Ibuku yang melihat ketergesaanku curiga. Lho Hid kok buru-2 banget memangnya mau kemana? ku jawab sekenanya, ... mau mainnnn. Sambil berlari kubawa sepeda kecilku, sampai lupa nggak bawa bekal. Sebenarnya kami mau main ke pantai parangtritis. Sebuah pantai yang cukup terkenal di Jogjakarta, dimana jaraknya sekitar 30km. Kami janjian dengan 2 orang sahabat karib saya, Otto dan Agung. Jam 6 pagi mereka sudah menunggu dihalaman sekolah SD pujokusuman 2, sebuah SD yang halamannya luas, bisa untuk bermain bola bagi orang dewasa. SD Kami memang di kompleks sekolah. Ada 4 SD disana masing-masing 1 kelas (SD 1, SD2, SD3, dan SD IKIP), juga terdapat SMP IKIP masing-2 dua kelas. Jadi bisa dibayangkan luasnya area di halaman sekolah kami. Mereka berdua Otto dan Agung sudah menunggu saya dengan sepedanya. Ternyata sepeda Agung rusak, sehingga hanya sepeda Otto yang terbawa. Mereka berdua berboncengan dengan sepeda mininya. Tapi boncengannya tidak ada, sehingga yang dibelakang harus berdiri menginjak besi as roda belakang. Otto dan Agung memang teman baik saya, mereka berdua menepati janji untuk main ke pantai parangtritis bertiga. Tapi rekans mereka ternyata tidak bawa bekal apa-apa. Saya heran kok nggak bawa bekal, ... nggak papa kata Otto. OK Akhirnya kami berangkat tepat jam 06.00 pagi. Dengan sepeda kecil kami susuri jalan parangtritis. Kukayuh sepeda kecilku dengan kuat, kejar-kejaran bersama sepeda Otto. Bila Capek Otto dan Agung bergantian posisi.... terus demikian hingga kami sampai di kira-2 km 20. Otto didepan saat itu berboncengan dengan Agung. Kami berhenti tepat di pertigaan Kretek. Kretek adalan salah satu nama daerah di dekat pantai parangtritis Kab. Bantul DIY. Papan Plang Petunjuk jalan di pertigaan itu mengabarkan, lurus ke Parangtritis, Kanan ke Pantai Samas, sedangkan kami dari arah kota jogjakarta. Tiba-tiba kami berubah pikiran, Otto berteriak .... Yuk kita ke arah Pantai Samas saja Yuk. Dengan Kompak kami nggak ada yang menolak .... Akuuur. Lantas kami belok kanan menuju pantai Samas. Rekans tahukah jalan itu, dengan stil yakin kami yang belum pernah melalui daerah itu melaju dengan sepeda mini kami. 2 km Berlalu ternyata daerah tsb adalah daerah padang ilalang atau Bulak (bahasa jawa). Jalannya masih jalan makadam dan berbatuan, sehingga tidak nyaman dengan sepeda kami. Berkali-kali Otto dan Agung mengeluh kakinya sakit. Saya semangati mereka untuk terus saja jarak pantai makin dekat, setelah sampai pantai nanti bisa istirahat penuh. Dengan semangat kami kayuh lagi sepeda kami. 3 km, 4km, 5km, terus hingga +/- 10km kami melalui padang ilalang (mbulak) tersebut. Suasana panas membuat kerongkongan kami kering. Kami nggak bawa minum sama sekali. Ditengah keputusasaan Otto rekans kami (sambil memboncengkan Agung) berteriak Uli ....... Uli ...... Ulii ...... seperti suara sirine mobil ambulance. Demikian terus Otto berteriak Uli ....... Uli ...... Ulii ...... terus demikian hingga kami sampai didaerah yang teduh dengan beberapa rumah penduduk. Lantas kami mampir sebentar kesalah satu rumah penduduk dan minta minum air sumur. Kami bertiga hampiri sumur tersebut dan menimba airnya untuk diminum langsung. Gluk .... Gluk ....Gluk .....Gluk ...... kami bertiga puas minum air, hingga rasa dahaga kami hilang. Kami lanjutkan perjalanan kami lagi hingga sampai pantai samas. Ternyata pantai Samas cukup indah juga, karena kami bertiga baru kali itu melihatnya, lantas kami main air dan mandi di pinggir pantai. Ada beberapa orang pedagang jajanan dan minuman disana. Namun tak seorangpun dari kami bertiga yang membeli jajan, karena kami memang tidak membawa bekal yang cukup. Setelah puas main di Pantai kami pulang melalui jalur yang sama. Kali ini setelah melewati padang ilalang/bulak sepanjang 10 km tadi kami bertiga berteriak Uli ....... Uli ...... Ulii ...... sambil tertawa keras. Kami berteriak sekencang-kencangnya karena memang daerah itu tidak ada orang dan rumah penduduk. Puas kami berteriak hingga 10km padang ilalang terlewati dan sampailah kami di jalan aspal halus menuju kota Jogjakarta. Pelan-pelan kami kayuh sepeda kecil kami hingga sampai di Halaman Sekolah SD kembali. 40km sudah kami lalui dengan menggunakan sepeda kecil kami. Kami bertiga istirahat sejenak sambil jajan Es Degan di Warung Langganan Kami . Minum Es Degan Segar .... tersa mak Nyusss di tenggorokan. Dengan kelelahan yang sangat, kami bercerita dan berbincang bersama penjual Degan yang geleng-gelengkan kepala. Puas Istirahat dan rasa haus mulai hilang kami bertiga pulang ke rumah masing-masing. Malam harinya baru terasa pegal dan linunya tubuh. Tanpa menunggu komando sehabis Isyak saya langsung tidur pulas hingga bangun keesokan harinya. Otto, Agung bila kau ingat perjalanan ini pasti terkesan. Sampai jumpa sahabat dilain kesempatan.

Wednesday, April 23, 2008

BULAN TERNYATA ADA TIGA

Bulan dalam lintasan kita adalah benda langit yang mengitari bumi dan bersama bumi mengitari matahari. Itu adalah pelajaran yang kita dapat dari sekolah untuk definisi bulan. Bulan akan muncul di malam hari, karena cahaya matahari tidak ada dan bulan memantulkan cahaya tersebut ke bumi, sehingga tampaklah bulan oleh kita. Bulan sangat indah dimalam hari apalagi saat purnama tiba. Jika malam purnama kita keluar rumah atau bermain di kawasan pantai dan kawasan pegunungan, maka akan terasa indahnya suasana malam purnama dan tenteramnya dunia. Bulan yang indah itu dahulunya pernah terbelah menjadi 2 bagian. Rekans ingat jaman Nabi Muhammad diminta oleh kaum kafir untuk menunjukan bukti kenabiannya. Maka dengan kekuasaan Alloh Nabi muhammad bisa menunjukan bukti kenabiannya dengan membelah bulan menjadi dua seperti permintaan kaum kafir. Namun tetap saja walaupun bukti telah ada kekafiran mereka sedikit yang terbuka, sehingga sedikit yang mau mengakui kenabian nabi Muhammad saw dan mengakui ketuhanan Alloh YME. Bila malam tiba saya kecil dulu selalu di temani orang tua saya. Sehabis magrib dan makan malam saya kecil (Pra TK s/d SD) selalu dinina bobokan oleh orang tua saya, bergantian ayah dan ibu. Mereka selalu bergantian memberikan nasehat melalui cerita-cerita yang menarik. Cerita-cerita tersebut sampai sekarang masih saya ingat dan akan saya teruskan kepada anak-anak saya kelak. Saya beserta adik-adik saya (3orang) dari waktu ke waktu pasti diberikan nasehat oleh orang tua menjelang tidur. Kemasan cerita orang tua cukup menarik, terutama cerita hewan, dongeng dan cerita para nabi. Sangat banyak cerita yang kami dapatkan dari mereka berdua. Namun sayang kami bersaudara berbeda dalam menyikapi didikan/nasehat/dan cerita orang tua mulai dari kecil tersebut. Saya terkesan dengan nasehat dan cerita-cerita mereka berdua, terutama cerita kehidupan masa kecil orang tua saya. Saya sangat ingat mulai kami kecil (setelah bisa mengingat) hingga kelas 3 SD selalu ditemani dan diberikan cerita pada saat akan tidur. Bagi kami sekarang mengenang suasana itu sungguh suatu amalan yang mulia dari kedua orang tua saya. Bagaimana mereka masih bisa memberikan nasehat, arahan dan bimbingan terbaiknya mulai dari bangun tidur hingga menjelang anak-anaknya tidur. Bagi kami kedua orang tua laksana seperti bulan yang terang cahanya di malam hari. Sangat menentramkan dan menengkan jiwa kami. Suasana malam hari bagi kami laksana terdapat 3 buah bulan di bumi ini yang sinarnya sama-sama terang, terang benderang, enak dipandang, enak dirasa hingga masuk ke dalam sukma. Adakah orang tua yang seperti itu ? mungkin barangkali ada bahkan lebih dari itu. Tetapi bagi saya Ayah Ibu saya, orang tua saya adalah yang terbaik di bumi ini. Mereka adalah jawara nomor satu, tiada tandingan di dunia ini. Teruslah bersinar 3 bulanku

Tuesday, April 22, 2008

PENGEPUL MELINJO

Mlinjo adalah buah yang sangat erat ditelinga kebanyakan orang, jarang yang belum pernah dengar buah melinjo. Apalagi anda adalah penggemar emping, tapi awas ya bagi yang sudah terindikasi asam urat segera mengurangi konsumsi ini, bisa kumat sakitnya. Suatu saat pada hari libur saya bertemu dengan 2 orang anak kecil kira-2 usia 7-8th yang menenteng sekantong plastik buah melinjo. Mlinjo yang sudah dikupas dan kelihatan warnanya coklat tua, bahkan ada yang sudah menghitam. Saya hampiri anak tersebut dan bertanya, dik mau diapakan buah melinjo itu. Kedua anak tersebut serentak menjawab, mau dibawa kepasar pak, mau dijual lumayan uangnya buat membantu orang tua. Jawaban tadi menarik sekali buat saya, sehingga saya ajak mereka berdua ngobrol banyak seputar buah melinjo. Memang adik rumahnya dimana? kata 2 orang anak kecil tadi rumahnya di kampung belakang perumahan Bukit Damai Indah, sekitar 2 km dari pasar. Memangnya adik rutin ya membawa melinjo ini, kok ingin membantu orang tua tanya saya. Iya katanya, setiap hari kami berdua selalu bangun pagi dinihari, sehabis sholat subuh kami cepat cepat keluar rumah mencari buah melinjo yang jatuh dari pohon, sebelum halaman pohon itu berada dibersihkan oleh si empunya. Ada banyak pohon melinjo disini sehingga kami dan rekan-2 kami setiap hari selalu mengambilnya. Oooo ... begitu, ternyata banyak ya temannya yang berprofesi sebagai pengepul buah melinjo di pagi hari kata hati saya. Memangnya berapa lama adik ngumpulin buah melinjo sampai sekantong pelastik begini. Ya .... kira-2 tiga mingguan, itu kalau rejeki kami duluan yang mengambilnya, soalnya kalau sudah kedahuluan rekans kami ya kami nggak dapat. Sekantong plastik bisa mendapatkan uang berapa dik? tanya saya. Mereka berdua saling pandang kemudian menjawab serentak nggak tentu Pak. Lho kenapa tanya saya lagi. Kadang para pembeli pembuat emping membelinya tergantung harga emping turun naik, kadang Rp.10.000,- kadang nggak nyampai dan kadang lebih. Jadi rata-2 adik berdua dalam 3 mingguan tadi mendapatkan uang Rp. 10.000,-. Iya jawab mereka. Lumayan kan Pak untuk membantu orang tua, paling tidak bisa untuk membeli buku sekolah. Jadi tiap hari adik bangun pagi dan sehabis sholat subuh adik berdua mencari buah melinjo. Betul Pak, walaupun begitu kami suka dan yang penting halal, bisa membantu orang tua kata mereka. Setelah dirasa cukup obrolan tadi, sambil menyalami adik berdua itu saya berikan beberapa lembar uang secukupnya. Mereka tadinya tidak mau menerima walaupun akhirnya mau juga, sambil mengucap terimakasih mereka berlalu. Rekans sekalian, sungguh saya terharu melihat hal itu. Terdapat banyak pelajaran bagi diri saya dari 2 orang anak kecil pengepul buah melinjo tersebut. Mereka berdua setiap hari pasti bangun pagi, pasti sholat subuh, pasti bekerja giat, dan pasti mempunyai rasa sayang luar biasa terhadap orang tuanya. Terimakasih adik, kalian berdua sudah memberikan pelajaran berharga buat saya. Semoga saya termasuk golongan orang yang menjaga sholat, berbakti kepada orang tua dan bertanggung jawab terhadap amanah yang dibebankan kepada saya. Terimakasih adik, semoga kelak kita berjumpa dalam kondisi yang lebih baik lagi.

Monday, March 24, 2008

BALIKPAPAN - PANGKALANBUN PP


Senin 17 Maret 2008 secara mendadak saya ditunjuk oleh bos saya untuk dinas di sampit dan pangkalanbun. Kedua kota tersebut adalah 2 kota pelabuhan yang ada di kalimantan tengah. Tahukah rekans lokasi ke dua kota tersebut ? tepatnya adalah di wilayah selatan dan barat dari propinsi kalimantan tengah. Pada beberapa tahun yang lalu rekans pasti masih ingat dengan nama kota sampit. Ya ... kota yang pernah terjadi kerusuhan antara suku madura dan suku dayak. Awalnya saya ragu, bisa nggak ke kota tersebut dengan kondisi nyaman, mengingat perjalanan jauh, historis kota dan sarana jalan yang kurang bagus. Tetapi setelah perjalanan dilalui ternyata keraguan saya sebelumnya adalah salah besar. Perjalanan ternyata sangat menyenangkan. Perjalanan dimulai dari kota Balikpapan menuju Banjarmasin dengan menggunakan pesawat, tepatnya adalah Batavia Air pada pukul 14.00 siang Wita. Setiba di banjarmasin jam 15.00 wita kami dijemput oleh rekan dari banjarmasin (Pak Taufik) setelah melalui koordinasi yang intens. Kami mampir sebentar di Kantor Telkom Banjarmasin bertemu dengan rekans-rekans lama kami. Setelah makan siang sebentar kami lanjutkan perjalanan menuju palangkaraya melalui jalan darat. Dengan mobil avanza kami melaju melalui jalan yang mulus. Perjalanan melalui jembatan barito yang panjang, kota kuala kapuas, pulang pisau anak sungai barito, sungai kahayan , jembatan diatas rawa sepanjang +/- 8 km sebelum akhirnya kami sampai di kota palangkaraya. Pada malam hari kami sampai di kota palangkaraya langsung menuju kantor Telkom Palangkaraya beramah tamah dengan rekans Palangkaraya, ternyata kami berjumpa juga dengan 2 orang teman lama. Selanjutnya kami makan malam dan istirahat di Hotel Palngkaraya. Pagi harinya kami dan tim menemukenali permasalahan di Palangkaraya dan selama 1 hari kami fokus untuk menyelesaikan permasalahan tersebut hingga clear. Pada malam harinya setelah makan malam kami dan tim melanjutkan perjalanan menuju kota sampit. Perjalanan melalui kebun sawit dan beberapa hutan kecil, sungai sungai kecil, dan jalanan yang agak turun naik dan berkelok. Tengah malam jam 12.00 wita kami tiba di sampit, selanjutnya menginap di hotel sampit. Pada pagi harinya kami dan tim menyelesaikan tugas untuk memeriksa kesiapan produk dan layanan internet disana. Siang harinya kami melanjutkan perjalanan menuju kota Pangkalanbun. Dalam perjalanan banyak kami jumpai perkebunan kelapa sawit yang luas, serta perkebunan karet. Kurang lebih selama 5 jam perjalanan, malah hari jam 19.00 wita kami sampai di kota pangkalanbun. Kota pangkalanbun tidak berbeda dengan kota sampit, keramaiannya dan kermahan penduduknya. Hanya saja mayoritas orang yang tinggal di pangkalanbun adalah orang jawa sehingga sering menjumpai orang berbahasa jawa. Kata rekans saya tinggal di pangkalanbun serasa dengan tinggal di Kota Semarang. Setelah menyelesaikan tugas jam 24.00 wita kami meniggalkan kota pangkalanbun dengan mobil panther yang saya sopiri bersama 5 orang kawan. Dalam perjalanan pulang, ditengah malam dan suasana hujan lebat silih berganti, kami menglamai beberapa kendala. Menjelang memasuki kota sampit mobil melaju mengenai lobang jalan yang rusak dan pecah ban depan kanan. Untung mobil masih bisa dikendalikan. Ban kemudian kami ganti ban serep ditengah hutan dan malam yang gelap. syukur sudah tidak hujan. Ban terpasang perjalanan dilanjutkan dengan ganti sopir Pak daris Yusup yang membawa mobil. Memasuki km 20 kota sampit ban depan sebelah kiri pecah. Tanpa ban serep kami tidak bisa mengganti ban, akhirnya kami menelpon pak bono Kepala Kantor Telkom sampit. 1 jam kemudian Pak Bono datang bersama 1 orang teman. Ban Kami ganti dan perjalanan dilanjutkan ke Sampit. Disampit kami instriahat sebentar dan ganti mobil untuk mengejar tiket pesawat kami Banjarmasin-Balikpapan dan rekan kami Palangkaraya-Jakarta. Sampai dipalangkaraya jam 09.30 WIB pesawat ke jakarta masih terkejar. Pesawat banjarmasin balikpapan sudah tidak terkejar, sehingga kami putuskan berangkat agak siangan. Dengan diantar salah satu rekan palangkaraya menggunakan mobil panther kami diantar ke Banjarmasin. Sesampai di Banjarmasin sore hari kami menginap di Hotel Mentari dekat kantor Telkom Banjarmasin. Paginya kami berangkat ke Balikpapan dengan pesawat Batavia Air. Sungguh pengalaman perjalan jauh pertama selama saya di luar jawa. Ternyata jalan darat di Kalimantan sudah bagus dak aksesnya mudah tidak seperti yang saya kira sebelumnya.

Saturday, March 22, 2008

BALIKPAPAN AWAL PEB 2008

Senin 4 pebruari 2008, jam 12.45 wita pesawat lion air dari surabaya-balikpapan mendarat dengan mulus. Para penumpang turun termasuk aku. Untuk pertama kalinya kuinjakan kakiku ke pulau Kalimantan, kota balikpapan tepatnya. Flexi combo sudah saya aktifkan, on sinyal penuh didapat. Sambil antri bagasi saya telpon rekans saya, ternyata sudah menunggu di depan gerbang bandara bersama 2 orang anaknya. Ketemu teman lama, bersalaman bersama si kecil yang baru duduk di bangku TK, langsung lekat sama saya. Mungkin saja karena jarang bertemu dengan Om dan suadaranya. Berempat kami semobil menuju kantor Transmisi di Batu Ampar Balikpapan Utara. Sepanjang perjalanan saya amati indahnya Kota. Ternyata jauh dari bayangan saya sebelumnya. Balikpapan adalah Kota metropolitan yang tidak kalah dengan kota-kota dijawa. Kota yang bersih indah dengan kontur kotanya yang berbukit-bukit. Banyak pohon tumbuh rindang di pinggir jalan. Hal yang paling mengesankan pertama masuk kota adalah disetiap perempatan lampu merah tidak pernah dijumpai pengamen dan pengemis jalanan. Oh .... betapa nyamannya lalu lintas yang demikian. Balikpapan sebagai pusat perindustrian di Kalimantan timur dengan berpuluh-puluh industri perminyakan, pertambangan, perkebunan dsb ternyata memiliki pendapatan asli daerah yang mencengangkan. Informasinya pendapatan asli daerah Balikpapan adalah nomor 2 secara nasional, Luuuaar biasa. Sungguh bila ini dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang besar bagi warga dan masyarakatnya. Selama kurang lebih 1 minggu saya tinggal di kantor transmisi Telkom Batu Ampar Balikpapan Utara. Kantor transmisi yang strategis dekat dengan terminal luar kota ke arah Kota Samarinda. Balikpapan dengan berbagai macam etnis pendatang sangat menghargai jasa yang diberikan orang. Hal-hal yang berkaiatan dengan jasa sangat dihargai dikota ini. Bila anda di Jawa membeli makan dengan harga 5 rb - 10 rb, maka di Balikpapan berkisar 15rb - 25 rb. Padahal ongkos bahan baku tidak jauh beda. Betap dihargainya jasa memasak di Balikpapan. Demikian pula jasa tukang batu, tukang kayu, tukang las, guru, dll. Berkeliling ke semua penjuru kota sangat menarik. Kota yang dikelilingi dengan pantai yang cukup indah ini ternyata menyimpan beberapa potensi alam yang enak dinikmati pemandangannya. Dari pusat kota terdapat pantai melawai, dan beberapa pantai kecil, serta pelabuhan. Agak ke utara terdapat pantai Manggar dengan pasir putihnya, lumayan untuk rekreasi bersama keuarga. Pelabuhan udara yang sangat padat dengan jadwal penerbangan berbagai macam menuju kota-2 di Jawa dan Sulawesi, serta pelabuhan laut membuat kota ini sangat strategis dengan daya dukung yang potensial. Balikpapan kota pertama saya menginjakan kaki di luar jawa, semoga memberikan arti berharga bagi kehidupan kami sekeluarga, amin.

Sunday, February 24, 2008

Seperempat Abad Buya HAMKA (4)

Kata yatim dengan segala variannya, tersebut dalam Alquran sebanyak 23 kali. Sebagian ahli bahasa Arab memberikan definisi anak yatim adalah anak yang bapaknya sudah meninggal dunia. Sebagian ulama menambahkan batasan yakni yang masih belum sampai batas baligh. Batasan ini ditambahkan karena menurut mereka ada hadis yang berbunyi: ‘’...tidak ada anak yatim bagi anak yang telah sampai umur baligh.’’ Sebagian ulama menjelaskan, anak yatim adalah anak kecil yang tidak lagi mempunyai bapak. Yang dimaksud tidak mempunyai bapak adalah tidak mempunyai bapak yang diketahui menurut aturan syara’, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh Ibrahim Al-Baijuri. Soal di usia berapa seorang anak yang ditinggal mati oleh bapaknya tidak lagi menjadi yatim, memang masih kontroversial. Sebagian ulama mengacu pada usia tertentu. Ada yang berpendapat bila sudah berusia 10-12 tahun dan ada juga yang mengatakan bila sudah akil baligh. Namun tidak sedikit ulama yang berpendapat hal itu bisa bersifat relatif, tergantung tingkat kemandirian seorang anak yatim. Artinya, meski sudah baligh, namun bila belum mampu mandiri, sementara ia tidak memiliki ayah yang dapat dijadikan tempat bersandar, maka ia tetap disebut yatim. Dan, meskipun belum baligh tapi sudah mandiri dan mapan di bidang ekonomi, sudah mumayyiz dan akil, maka ia bukan lagi anak yatim. Intinya, anak-anak yatim adalah anak-anak yang ditinggal mati oleh ayahnya, sehingga karena itu ia mendapatkan perhatian lebih di dalam Islam dan harus lebih dikasihani ketimbang anak-anak
yang lain. Dalam konteks Indonesia, kata yatim identik dengan anak yang bapaknya meninggal. Sedangkan bila bapak ibunya yang meninggal, maka dikatakan yatim piatu. Otomatis, perhatian dan santunan lebih dicurahkan kepada yatim piatu dari pada yang yatim saja. Bila dilakukan pendekatan secara ushul fikih, prioritas semacam ini dimasukkan ke dalam kategori fahmal khitab (pemahaman secara eksplisit dengan memakai sekala prioritas). Artinya, secara filosofis bisa digambarkan, anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya lebih diprioritaskan dari pada
anak yang hanya ditinggal mati bapaknya saja. Sejatinya, dalam fikih klasik tidak ada skala prioritas seperti yang terjadi dalam konteks Indonesia ini. Yatim, yaitu anak yang ditinggal mati oleh ayahnya. Istilah yatim atau piatu atau yatim piatu dalam bahasa fikih tidak dikenal. 􀁑 dam/disarikan dari buku Bersanding dengan Nabi di Surga

Seperempat Abad Buya HAMKA (3)

Masjid Agung Al Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akan menyelenggarakan peringatan ”100 Tahun Buya Hamka”. Peringatan itu menurut rencana akan dilaksanakan di masjid tersebut mulai hari ini. Menurut siaran pers Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, peringatan tersebut akan diisi dengan Tabligh Akbar setelah shalat Jumat. Para pengisi acara di Tabligh Akbar tersebut antara lain Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Syuhada Bahri. Selain itu, terdapat pula Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kholil Ridwan dan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Didin Hafidhuddin. Kegiatan lainnya dalam memperingati seabad Buya Hamka antara lain Dialog Terbuka, Festival Budaya, dan pemutaran film tentang Buya Hamka. Dalam acara itu, akan dilakukan peluncuran buku 100 Tahun Buya Hamka, situs http://www.buyahamka.com/, dan Perpustakaan Buya Hamka. Hamka, yang merupakan kepanjangan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah ulama dan penulis Islam- Indonesia modern yang produktif. Ulama kelahiran Sungai Batang, Sumatera Barat, 16 Februari 1908 itu, pernah memasuki dunia jurnalistik dan pada 1926 mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah.Sepuluh tahun kemudian, Hamka mendapat tawaran menjadi editor kepala
jurnal Islam yang baru terbit di Makassar, Pedoman Masyarakat. Hamka juga terkenal sebagai seorang sastrawan dan pujangga. Karya-karyanya antara lain novel Di Bawah Lindungan Ka`bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijht.
Dalam bidang ilmu keagamaan, ulama yang ke Mekkah pada tahun 1927 itu membuat kitab tafsir yang dikenal sebagai Tafsir Al Azhar. Tokoh Islam ini termasuk orang terdepan dalam sejarah perkembangan Islam abad modern di Indonesia. Namun sayangnya, saat ini tak banyak anak muda yang mengkaji ketokohannya. Sebaliknya, nama Hamka malah makin berkibar di negeri tetangga, terutama Malaysia dan Singapura. Museum Hamka yang berlokasi di tepi Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat ini lebih banyak dikunjungi wisatawan dari negeri jiran itu ketimbang wisatawan lokal. ”Sangat disayangkan bahwa tokoh sebesar Hamka kini mulai dilupakan anak muda kita. Pemerintah juga tak terlalu memperhatikan kepahlawanannya,’’ kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsudin saat berkunjung ke Museum Hamka beberapa waktu lalu. Museum Hamka itu adalah rumah tempat lahir Buya Hamka. Rumah itu telah direnovasi dengan model rumah gadang. Terletak di kaki bukit setelah melewati kelok 44, museum itu menyimpan benda-benda berkaitan dengan Buya Hamka. Di dalamnya, ada perpustakaan berisi karya-karya Buya, tongkat, tempat tidur, kursi, meja tulis dan benda-benda lainnya. Din menyatakan ironis, orang sekaliber Hamka kurang dihargai di negerinya sendiri. Bahkan tak ada nama jalan yang menggunakan nama Hamka. ‘’Banyak nama jalan protokol di Jakarta menggunakan nama tokoh yang kita tidak mengenal ketokohannya. Padahal, Hamka jauh lebih besar dari mereka,’’ kata Din. Din menilai Buya Hamka berjasa membentuk karakter bangsa Indonesia. Mengenai alasan kurang begitu populernya Hamka, ia menyatakan kondisi tersebut adalah karena kurangnya sosialisasi khususnya dari pihak pemerintah pusat. Oleh karena itu, Din berharap agar baik pemerintah pusat maupun daerah khususnya di Sumatera Barat untuk melakukan sosialisasi sosok Buya Hamka, termasuk dalam pengelolaan museumnya yang terletak berhadapan dengan Danau Maninjau

Seperempat Abad Buya HAMKA (2)

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) yang akrab dipanggil dengan Buya Hamka (1908-1981) adalah tokoh yang dikenal cukup luas secara nasional, regional, bahkan internasional. Deliau dikenal sebagai pribadi lembut namun berkarakter, sosok halus tapi berprinsip, dan tokoh modernis yang kharismatik. Dakwahnya sejuk menyirami dahaga spiritual umat. Acara dakwahnya di radio dan televisi (TVRI saat itu) selalu ditunggu jutaan orang. Pada tanggal 16 Pebruari 2008, genap seratus tahun hari kelahiran Buya Hamka (16 Pebruari 1908). Beliau wafat 27 tahun yang lalu, tepatnya 24 Juli 1981. Hasil perjuangannya dapat dirasakan oleh umat Islam secara luas. Dalam kesibukannya yang luar biasa, Buya Hamka secara produktif aktif menulis dalam bentuk artikel, kolom, makalah, dan buku. Sosok yang secara formal tidak pernah sekolah, dengan otodidak yang ketat, mampu menulis apa saja. Dia menulis tentang sejarah, tafsir, hadis, tasawuf, bahasa, hingga sastra. Karya-karyanya merupakan respon aktif dari kondisi yang terjadi di masyarakat. Di saat terjadi paradoksal masyarakat kota antara paham tasawuf ekstrim dan pola kehidupan hedonistik sekuler, beliau menulis Tasawuf Modern. Di saat terjadi fenomena perseteruan akut antara adat dan agama, dia menulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di saat masyarakat modern lari dari agama mengikuti kehidupan materialistis, beliau menulis Di Bawah Lindungan Ka’bah. Respon terhadap kondisi masyarakat juga diungkapkan ketika sedang merenung di dalam penjara, hingga terlahir karya monumental, Tafsir Al-Azhar. Lebih dari 113 buku yang ditulis dalam berbagai disiplin ilmu Begitulah sosok Buya Hamka yang sangat responsif terhadap kondisi masyarakat. Tokoh besar itu telah tiada, namun karyanya dinikmati hingga kini oleh umat Islam. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Buya Hamka wafat meninggakannama besar dan karya-karya monumental

Sperempat Abad Buya HAMKA (1)

‘’Buya Hamka memiliki kemampuan dakwah yang menyeluruh.Dakwah lisannya sangat indah, tutur katanya sangat baik dan tak pernah menyerang orang, argumentasinya sangat rasional dan logis, mampu menyentuh emosi setiap pendengarnya.’’ (Didin Hafidhudin, direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun) ‘’Buya Hamka adalah sosok ulama besar yang memadukan keluasan ilmu pengetahuan dan ketinggian kepribadian. Keluasan ilmunya bisa dilihat
dari begitu banyak buku yang ditulis salah satunya yang sangat monumental adalah Tafsir Al Azhar. Ketinggian kepribadiannya bisa dilihat sebagai figur ulama yang berwatak, penuh istikamah yang ditunjukkan ketika sebagai ketua umum MUI yang menyatakan mundur katika eksekutif mencoba mengintervensi lembaga itu.” (Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah) ”Buya Hamka yang tidak hanya pandai berdakwah, tapi juga menulis
buku termasuk menulis roman yang menyuguhkan berbagai cara mengatasi masalah kehidupan. Sejak masih duduk di SMP saya senang membaca buku-buku Buya Hamka termasuk buku-buku sastra yang beliau tulis. Beliau memang figur dai yang sangat lengkap yang jarang ada tandingannya hingga sekarang.’’ (Dwiki Darmawan, musisi)

Saturday, February 23, 2008

KOTA "PECEL" MADIUN

Madiun, sebuah nama kota madya di propinsi jawa timur bagian barat sudah tidak asing lagi namanya. Kota yang dulunya merupakan wilayah kerajaan mataram ini menjadi sentra perekonomian saat itu. Sampai dengan sekarang masih terlihat peninggalan kemajuan kotanya, terutama adalah banyaknya pabrik gula yang mengelilingi kota ini. Tidak kurang ada 5 pabrik gula yang ada di sekeliling kota madiun. Kota madiun juga dikenal sebagai kota Pecel dan Kota Brem, karena memang banyak warganya yang memproduksi dan berniaga pecel serta Brem. Bahkan nama pecel dan brem ini sudah melekat pada benak setiap orang yang mengenal madiun. Kota Madiun juga terdapat salah satu industri strategis Nasional "PT INKA" dan terdapat salah satu pangkalan Udara utama nasional "Pangkalan Udara Iswahyudi". Kota Madiun dalam sejarah perjuangan negara RI juga pernah terlintas sebagai kota terjadinya pemberontakan PKI muso tahun 1948 yang berhasil ditumpas oleh tentara nasional indonesia pada saat itu. Seiring dengan perjalanan waktu kota madiun yang dulu merupakan kota karesidenan dan kota madya pada saat ini terus bergerak mempercantik diri. Perkembangan industri, perdagangan, perumahan dan pendidikan cukup pesat. Terutama dalam perkembangan perumahan sungguh merupakan sebuah kota dengan perkembangan perumahan cepat. Saya pertama kali datang ke kota madiun 1 nop 1996 atau 11 tahu 2 bulan yang lalu kota madiun masih terlihat sepi. Hanya terdapat 1 plasa supermarket yang kecil. Namun saat ini kota madiun sudah memiliki 3 Plasa besar, 2 plasa kecil dan beberapa mini market yang bertebaran di sekeliling kota. Pasar besar dan stadion olahraganyapun sudah direhap sangat megah. Lalu lintas kota madiun berkembang pesat sehingga sering terjadi kemacetan disana sini. Itulah sedikit gambaran tentang kota Madiun. Di kota inilah saya mempunyai kenangan memori yang indah. Di kota inilah 3 orang anak saya lahir. Anak pertama juni 1999, anak kedua des 2001, anak ketiga maret 2003. Di kota inilah saya berkarya selama 11 tahun 2 bulan. Tentunya dalam waktu seperti itu banyak suka duka yang saya dapatkan di kota ini. Panas, debu, banjir, angin dan banyak hal saya alami di kota ini. Kota madiun di mana saya 11 tahun pernah tinggal tentunya tidak mudah dilupakan begitu saja. Kota yang akan saya kenang akan keramahan warganya, kegotong royongannya dan kerjasamanya. Saat ini saya telah pindah meninggalkan madiun, namun kota madiun akan selalu saya kenang bersama keluarga. Bravo Madiun semoga kotamu bertambah cantik dan elok yang akan mengundang pendatang-2 untuk berkreasi memajukan kotamu.

Friday, February 22, 2008

Perempuan Berselendang Bintang

bagaimana aku bisa mendefinisikanmu
pada hari yang terus berlari
kucoba memadatkanmu dalam kata-kata indah
yang berserak di cakrawala
tapi tak pernah bisa
meski itu hanya tentang sepotong mata teduh,
senyum yang berayun,
atau sejejak dari berjuta langkahmu
lalu kupintal puisi-puisi kesturi
yang setia kau tumbuhkan dari sanubari
menjelma karpet merah
dengan limpahan mawar merekah
yang tak akan pernah selesai kau lintasi
di sepanjang jalan hidupmu,
bunda: hari ini kuberikan sebuah award
seumur hidup untukmu
kau tahu aku tak memejamkan mata sekian lama
untuk menjaring permata-permata langit itu
menyusunnya di atas selendang berwarna salju
membentuk namamu dengan tinta yang paling emas
kuselempangkan padamu
diiringi nada-nada vivaldi
penghargaan bunda teladan tahun ini
dan hingga tak terhingga tahun
atas cinta yang tak pernah berhenti dari nadi
dan ketabahan menumbuhkan matahari
untuk semua yang kau tulis yang kau ukir di dalam diriku
dan lekuk jiwa semesta
untukmu perempuan berselendang bintang

(by Abdurahman Faiz)
sayag kagum pada puisi puisinya,
salam bangga saya pada puisi puisi anda

Wednesday, February 20, 2008

Aku di Jalan Kupu-Kupu

Aku di Jalan Kupu-Kupu Jun 11, 2005
Assalaamu'alaikum semua, salam sejahtera....

SEDIKIT TENTANG FAIZ
Abdurahman Faiz lahir di Jakarta, 15 November 1995, anak pertama dari pasangan Tomi Satryatomo (jurnalis televisi) dan Helvy Tiana Rosa (cerpenis). Ia telah menulis puisi sejak berusia 5 tahun. Namanya mulai dikenal publik ketika ia menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (2003). Pertama kali Faiz tampil membacakan puisi-puisinya yang pada waktu itu belum dibukukan, adalah atas undangan Nurcholish Majid pada acara peluncuran buku beliau yang mengundang ratusan tokoh nasional. Saat kelas II SD puisi Faiz “Sahabatku Buku” menjadi juara Lomba Cipta Puisi Tingkat SD seluruh Indonesia yang diadakan Pusat Bahasa Depdiknas (2004).

Buku kumpulan puisi pertama Faiz Untuk Bunda Dan Dunia (DAR! Mizan, Januari 2004) terbit saat ia berusia 8 tahun dan diberi pengantar oleh Taufik Ismail. Buku tersebut meraih Anugerah Pena 2005 serta Buku Terpuji Adikarya IKAPI 2005. Sejak buku itu terbit Faiz kian sering diundang membacakan dan membicarakan karya-karyanya--- yang banyak mengetengahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan dan politik--- dalam berbagai forum, termasuk di hadapan Presiden Megawati Soekarno Putri, Presiden SBY, mantan presiden Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah menteri dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Ia pun pernah diundang sebagai salah satu panelis Debat Capres di stasiun televisi swasta, pada pemilu lalu.

Buku keduanya: Guru Matahari (DAR! Mizan 2004), terbit saat ia masih berusia 8 tahun pula, diberi pengantar Agus R. Sarjono mendapat nominasi Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku ketiganya: Aku Ini Puisi Cinta (DAR! Mizan 2005) membawanya meraih penghargaan Penulis Cilik Berprestasi dari Yayasan Taman Bacaan Indonesia (2005).

Buku keempat Faiz adalah kumpulan esai berjudul: Permen-Permen Cinta Untukmu (DAR! Mizan 2005). Karyanya juga terdapat dalam antologi bersama: Matahari Tak Pernah Sendiri (1 dan 2), Jendela Cinta (GIP 2005), dan Antologi Puisi untuk Yogyakarta (2006). Puisinya pernah dimuat di sejumlah koran nasional antara lain Kompas dan Republika. Tahun 2006 Faiz dinobatkan sebagai Anak Kreatif Indonesia versi Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia yang dipimpin Kak Seto.

Bersama beberapa penulis cilik lainnya siswa SDIF Al Fikri-Depok ini menulis kumpulan cerpen Tangan-Tangan Mungil Melukis Langit (LPPH 2006), untuk membantu biaya sekolah bagi teman-teman kecil mereka yang tinggal di kolong jembatan tol. Buku terbaru Faiz: Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil, dikatapengantari oleh Sapardi Djoko Damono (LPPH, Juli 2007), Faiz baru saja terpilih sebagai Anak Berprestasi 2007 dari PKS.

Melalui rumah imajinasinya di multiply ini, Faiz langsung berbagi sapa dan karya dengan semua yang ingin mengenalnya lebih dekat. Selamat menyelusuri jalan kupu-kupu Faiz ya!

Tuesday, October 09, 2007

IN THE NAME OF ALLOH

Berhentilah mencaci maki kegelapan.
Lebih baik kau nyalakan secercah cahaya bagi mereka yang kegelapan.
Tebarkanlah iman dengan cinta.
Gubahlah dunia dengan prestasi.
Jadikan hidupmu penuh arti, setelah itu bolehlah bersiap untuk mati.
Kalau kelak dating hari perjumpaan,
basahkan bibirmu dengan ucapan kalimat toyibah: Laa illaha illallah
disadur dari Dauzan Farook yang Ikut Manggul Pak Dirman, saat Gerilya
dan Terakhir Koleksi 25 Ribu Buku u/ perpustakaan gratis,
lahir tahun 1925 di Kauman-meninggal 7 oktober 2007 di PKU Jogjakarta

Monday, September 24, 2007

CEMORO SEWU …. NGANGENIN DEH

Perjalanan panjang 4 jam Madiun – Jogja cukup melelahkan. Setir mobil terasa berat sudah. Mulai ashar dari jalanan lurus halus hingga jalanan menanjak dan penuh tikungan tajam. Menjelang magrib tawang mangu karanganyar solo sudah ditangan. Kanan kiri penuh dengan tanaman. Berbagai macam Anthorium sangat menawan. Tahukah kawan, di tawang mangu anthorium banyak dibudidayakan. Demikian juga dengan banyak tanaman hias lain dengan penuh rasa kekeluargaan. Tawang Mangu keatas jalanan penuh dengan tanjakan tajam. Sesekali saya trenyuh dengan hawa dingin dibadan. Sendirian perjalanan saya nikmati dengan rasa senang dan nyaman. Karena memang jalur itu adalah jalur kenangan. Lama sudah saya tidak melewati jalur itu. Dulu dimasa muda saya beberapa kali melewati jalur tersebut. Dengan motor kenangan (Dik Tia demikian saya menyebut) bersama beberapa kawan kami melakukan pendakian. Pernah suatu ketika motor kawan tidak kuat di tanjakan. Kami Bantu untuk dorong bebarengan. Sungguh senang saya mengenang masa itu sembari jalan. Saat azan magrib tiba, tepat sudah saya sampai di Cemoro Sewu. Sungguh sayang jika saya terus berlalu. Maka saya putuskan tuk singgah sejenak. Mampir ke Mushola untuk sholat magrib bersama komunitas pendaki yang saya sebut masih anak-anak. Mobil saya belokan di tempat parkir cemoro sewu. Disana ternyata banyak orang menunggu. OOO ..... iyyaa .... saya baru ingat ternyata saat itu adalah malam minggu. Mobil saya parkir, selanjutnya saya sholat di mushola terdekat. Mushola tersebut sudah berubah dari +/- 17 tahun yang lalu. Sekarang sudah sangat cantik dan terlihat gagah. Diantara rumah penduduk, warung makan dan tegalan di pinggir badan jalan. Terlihat juga ladang strowbery yang dulunya adalah ladang wortel. Antena Pemancar TVRI masih seperti dulu 17 th yang lalu, tetapi itu sebagai pertanda titik balik pendakian dari puncak menuju cemoro sewu. Sholat maghrib sudah berlalu. Ternyata perut terasa ngilu. Oooh iya ... lapar karena memang sudah jam makan. Saya mampir sejenak ke warung makan langganan. Lama ... sudah saya kenang. Ternyata penunggu sudah berganti orang. Tapi tetap sama dalam hal keramahan. Ya keramahan itulah yang sangat memberikan kesan. Saya pesan mie rebus yang instan, kopi panas yang menawan. Ditemani beberapa orang kami ngobrol sambil rokokan. Sungguh nikmat dibalut rasa dingin pegunungan. Sembari menghirup kopi yang tidak terasa panasnya. Sembari menghisap rokok yang sangat nyaman rasanya. Wuiiih alangkah nikmatnya, ...... Saya mengenang masa indah bersama teman karib yang sangat bijaksana. Hingga kini ternyata masih sangat bijaksana. Duhai kawan, andai kita masih bisa bernostalgia. Tentu akan dilengkapi dengan gelak dan canda tawa. Semoga engkau semua sukses disana. Di kehidupan masing-masing bersama keluarga ........

PUASA ADALAH MILIK ALLOH SEMATA

Ramadhan 1428 H telah 10 hari berlalu saat penulisan ini. Terasa bahwa hari demi hari cepat berlalu. Kebanyakan orang merasakan hal tersebut. Bagaimana dengan anda ... cepat atau lambatkah perjalanan puasa tahun ini?
Alloh swt berfirman QS. 2. 183 : Hai orang-2 yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa. Dengan perintah tsb semua orang beriman dipenjuru dunia menjalankan puasa ramadhan bersama. Dalam sebuah riwayat dinyatakan pula bahwa puasa yang dijalankan orang beriman ini adalah untuk Alloh semata. Tentunya mendapatkan prioritas yang istimewa oleh Alloh swt. Semoga puasa kita sekalian mendapatkan tempat yang baik disisi Alloh swt.
Dalam bulan Ramadhan dianjurkan untuk mempaerbanyak amalan, memperbanyak bacaan al qur’an sehingga tampaklah beda antara bulan biasa dengan bulan ramadhan. Secara fisik perbedaan bulan ini tidak akan kelihatan. Tetapi akan terlihat melalui Hati nurani dan Indra ke-6 manusia. Di hampir semua Masjid yang ada setiap aktifitas ibadah pasti lebih ramai dari biasanya. Hal ini tidak mengherankan karena pahala yang dijanjikan Alloh kepada hambanya dibulan ini sangat luar biasa besarnya, bisa lipat puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali dibanding ibadah di bulan yang lain. Untuk itu marilah berbondong-bondong menambah amal kebaikan, meningkatkan keimanan, memperbanyak amalan , tadarus ... dst.
Tahukah anda bahwa puasa bisa memperkuat fisik dan mental ? tahukah anda bahwa puasa bisa meningkatkan ketajaman hati nurani? Tahukah anda bahwa dengan niat tulus dibulan Ramdhan ini orang yang tidak makan sahurpun kuat berpuasa? ... Tahukah anda manfaat dari puasa ? ...... buktikan langsung saja, niatkan, pahami, rasakan dan laksanakan. Insya Alloh jawaban akan anda dapatkan.

Friday, June 15, 2007

NRIMO ING PANDUM

Istilah jawa mengatakan demikian, bukannya karena penulis adalah orang jawa sehingga mengadop istilah tersebut, tetapi memang maksud dari pernyataan itu sangat tepat bila disampaikan kepada pembaca, tentang kondisi dewasa ini. Apabila kita cermati, banyak kejadian yang berpangkal dari pernyataan diatas. Entah itu pencurian, penculikan, penggusuran, rebutan kue proyek, rebutan posisi dan berbagai hal lain akibat adanya keinginan sebagian orang yang tidak bisa dikendalikan. Nrimo ing pandum dalam istilah jawa mempunyai makna sebagai bentuk kondisi pengendalian hawa nafsu dan keinginan kita akan banyaknya keinginan dalam hidup di dunia ini, yaitu sikap menerima pemberian Alloh yang maha kuasa kepada kita dan kita mensyukurinya . Semua orang pengin kaya, semua orang pengin pinter, semua orang pengin berkuasa, semua orang pengin menjabat, semua orang pengin dihormati, semua orang pengin disegani, dsb. Namun tidak banyak yang bisa mengendalikan keinginannya tersebut, hanya sebagian kecil saja yang bisa. Sepertinya sangat nyaman seandainya kita bisa mengendalikan keinginan tersebut. Otomatis apa yang kita pikirkan, kita dapatkan, dan kita impikan akan sejalan dengan kondisi yang terjadi pada diri kita. Kami berharap dengan pemahan dan penerapan yang demikian, maka kehidupan masing-2 orang akan nyaman, dan tentunya akan berimbas pada lingkungan sekitar, dan tertibnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semoga .......